Perlu Edukasi Ekstra dalam Menyadarkan Masyarakat Peduli Sampah (Review Kegiatan World Cleanup Day 2021)
Persoalan sampah masih
menjadi masalah serius umat manusia. Kita masih mudah menemukan berbagai jenis
sampah berserakan di tempat-tempat umum. Akar permasalahan ini dikarenakan masih
rendahnya kesadaran masyarakat kita akan pentingnya menjaga kebersihan. Sebagian
besar masih cenderung cuek dengan dampak buruk yang ditimbulkan. Ironisnya
sebagian besar dari kita justru sangat mendampakan kebersihan dan keindahan. Tetapi
masih sangat malas atau acuh dengan kondisi lingkungannya.
Salah satu kegiatan yang
merespon permasalahan sampah ini yaitu World Cleanup Day 2021 (WCD) yang kegiatan
puncaknya diselenggaran hari Sabtu, 18 September 2021. WCD kegiatan hari bersih-bersih sedunia
merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan di berbagai kota di dunia. Kegiatan
WCD berada di bawah naungan yayasan Let’s Do It World (LDIW) yang mengajak
seluruh masyarakt dunia untuk membersihkan limbah padat di darat maupun laut. Penulis
sendiri bergabung dengan para relawan di kota Makassar.
Di kota makassar titik
aksi dibagi kedalam empat titik yaitu Di Lego-Lego, anjungan pantai Losari,
Dermaga Kayu Bangkoa serta di Laut. Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan
dengan memungut sampah di sekitar lokasi kegiatan. Penulis kebetulan berada
dalam tim yang bertugas memungut sampah di daerah laut . Kami menggunakan
perahu yang sudah didesain khusus untuk mengambil sampah di air. Air di laut
pantai losari betul-betul sudah sangat tercemar dengan warna kehitaman yang
menandakan begitu banyaknya limbah cair di laut ini. Selain itu sampah plastik
juga tak kalah banyaknya seolah tidak mau habis. Tim kami dibagi kedalam tiga
kelompok yang secara bergantian menggunakan perahu kayu yang tersedia. Jenis-jenis
sampah yang kami dapatkan kebanyakan sampah plastik dan beberapa sampah
organik. Ada juga beberapa sampah yang terbungkus dengan rapi yang kami
dapatkan, seolah-olah sampah tersebut memang sengaja dibuang di air (di sungai/kanal
yang kemudian bermuara ke laut).
Walau banyak sampah padat
yang berhasil kami kumpulkan. Saya sendiri akui untuk di daerah laut sangat
sulit mengambil semuanya. Bahkan saya berani mengatakan walaupun kegiatan WCD
ini tiap hari dilakukan, belumlah cukup membuat perairan disekitar pantai Losari
ini benar-benar bebas dari sampah. Selama bukan akar masalahnya yang diselesaikan.
Akar masalahnya salah satunya yaitu prilaku membuang sampah di perairan. Masih perlu
edukasi yang terus-menerus ke masyarakat awam terkait ini. Selain itu peran
pemerintah untuk mengawasi dan membuat regulasi yang tepat sangat diperlukan. Semoga kegiatan WCD kedepannya tidak memiliki
lagi sampah untuk dipungut. Salam Lestari.
#wcdmakassar2021
Misalnya saja ada beberapa orang yang membersihkan rumah dan pekarangannya. Lalu sampahnya dibungkus dengan rapi di kantong plastik. Ini merupakan satu bukti cinta akan kebersihan, tetapi setelah itu mereka justru membuang sampah mereka di sungai ataupun kanal. Seolah-olah masalah sudah selesai. Padahal dia hanya menyelesaikan masalah sampah di rumahnya dan memindahkannya ke tempat lain. Yang justru akan menimbulkan dampak yang lebih buruk. (sumber: pengalaman mata pribadi penulis). Contoh lain kita cenderung menyukai datang ke taman atau fasilitas umum yang bersih dan indah. Menikmati sekitar sambil minum dan makan cemilan merupakan satu kenikmatan. Namun masih ada segelintir orang yang meninggalkan tempat duduknya sekaligus meninggalkan sampahnya begitu saja. Mungkin mereka berpikiran “toh nanti akan datang tukang bersih-bersih yang membersihkannya”. Itulah segelintir persoalan prilaku masyarakat dalam membereskan sampah mereka.
Sampah merupakan bagian dari suatu produk barang yang sudah tidak difungsikan lagi. Sampah tersebut apabila dikelola dengan cara yang tepat akan memiliki nilai ekonomi. Kita tidak bisa lepas dari produksi sampah, namun kita dapat meminimalisirnya ataupun mengubahnya menjadi produk lain.
#wcd
penulis : Yayat Much







Komentar
Posting Komentar