Memaknai Pribumi Sebagai Manusia Asli Indonesia yang Tak Hilang Oleh Zaman

Tulisan ini lahir sebagai refleksi penulis untuk usia Negara Indonesia yang ke-77. 


Seringkali perbedaan identitas menjadi pemecah kehidupan manusia. Tapi disisi lain identitas yang beragam justru menjadi kekayaan budaya yang sangat bernilai. Warisan leluhur yang dibangun secara turun temurun menjadi kebanggaan tersendiri yang melekat di dalam hati insan manusia. 

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari ratusan suku bangsa yang mendiami wilayahnya.

Budaya Indonesia sangat unik yang berkembang dan tumbuh besar di seluruh pelosok nusantara. Dari jaman prasejarah hingga jaman modern, budaya terus berakulturasi membentuk dirinya sendiri.

Kebanggaan akan Indonesia menjadi salah satu nilai mutlak yang harus dijaga. Dalam momen hari lahir negara Indonesia yang ke-77 tentu harus membakar semangat nasionalisme untuk terus menyala. Nilai-nilai ke-Indonesia-an harus terus diperkuat sebagai bangsa yang lahir dan besar di tanah Nusantara. 

Namun ada kemirisan tersendiri di hati penulis ketika di momen sakral ini. Saat muncul kembali segelintir orang berkomentar bahwa tidak ada bangsa ASLI di Indonesia, semuanya pendatang. Segelintir orang yang menurut saya memiliki semangat nasionalisme yang kurang, sehingga kaum pribumi pun dianggap sebagai pendatang.

Mereka beranggapan bahwa masyarakat Indonesia yang ada saat ini merupakan bangsa pendatang di bumi Nusantara. Termasuk pribumi yang jelas-jelas mendiami tanah ini sejak ribuan tahun lalu.

Untuk itu kita harus memaknai lebih dalam terkait bagaimana 'pribumi' itu. Dan mengapa masih layak disebut sebagai manusia asli Indonesia. Kata pribumi dalam KBBI bermakna 'penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan; atau inlander' . Yang berarti dapat disimpulkan bahwa pribumi sebagai orang-orang asli yang mendiami wilayah tersebut dari jaman dahulu hingga sekarang.

Kemudian lebih lanjut dalam kajian sejarah yang membahas persebaran manusia dimuka bumi. Migrasi manusia merupakan hal mutlak terjadi. Lalu dasar teori yang sering dijadikan ajuan bahwa pribumi juga merupakan pendatang  yaitu, masyarakat yang ada di Indonesia semuanya hasil migrasi dari dataran benua Asia pada jaman dahulu. 

Mengapa orang-orang lebih senang mempopulerkan teori tersebut. Padahal beberapa teori lain juga mengatakan bahwa asal-usul bangsa Indonesia  berasal dari Indonesia sendiri. Lalu kemungkinannya menyebar ke daratan Asia. Beberapa buktinya yaitu, peninggalan situs prasejarah tertua di dunia, ditemukan berada di bumi Indonesia.

Namun terlepas dari perdebatan nenek moyang Indonesia, apakah pendatang atau bukan. Penulis sendiri memaknai kata pribumi sebagai orang-orang yang lebih dulu mendiami suatu wilayah dalam waktu yang sudah sangat lama. Sehingga membentuk suatu kebudayaan/peradaban tersendiri yang sudah berbeda dari tempat lain. 

Sebagai contoh bangsa Indonesia adalah pribumi di bumi Indonesia. Suku Indian merupakan pribumi (penduduk asli) di benua Amerika, bangsa China, Jepang, India, Arab, Eropa, Afrika, suku Aborigin dan lain sebagainya merupakan penduduk asli di wilayah mereka. Dimana bangsa-bangsa ini membangun peradaban di wilayah itu yang memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga manusia lain yang datang belakangan harus menghormati peradaban yang sudah terbangun. Terlebih ketika manusia lain itu membawa identitas budaya yang berasal dari daerah (negara) asalnya.

Hal tersebut terlepas dari akulturasi budaya yang kemudian terjadi. Peradaban yang lahir di Indonesia tetap harus dilestarikan. Karena itulah kekayaan bangsa Indonesia yang patut dibanggakan.

Persoalan selanjutnya terkait DNA dan pernikahan antara pribumi dan non-pribumi. Yang tentu melahirkan keturunan yang tidak murni lagi pribumi. Hal ini seringkali menjadi alasan selanjutnya untuk menguatkan pendapat tentang 'tidak adalagi pribumi asli'. Persoalan ini memang sulit untuk dihindari mengingat pernikahan adalah pilihan setiap insan. Sehingga tidak dapat dibatasi. Namun selama darah yang mengalir didalam tubuhnya, lebih dari 50 persen darah pribumi, maka anak tersebut masih bisa bangga menyebut dirinya pribumi. Terlebih ketika campuran darahnya, 80 persen bahkan 90 persen.

Dan sampai kapanpun kita harus tetap menghormati bangsa-bangsa asli yang mendiami bumi Indonesia. Baik itu penduduk asli pulau Jawa, Papua,  Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali dan lain sebagainya yang terbagi kedalam ribuan suku bangsa. Mereka adalah penduduk asli yang telah lama membangun peradaban.

Hal ini sama saja ketika orang-orang Amerika asal Eropa yang tidak akan mungkin menggantikan posisi suku Indian sebagai pribumi asli Amerika walau saat ini kebudayaannya telah mungkin hampir hilang.

Namun terlepas dari itu semua bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dengan siapapun. Dan tentu akan menerima dengan baik siapapun untuk menjadi penduduk Indonesia. 

17-28 Agustus 2022

Muhsin Hidayat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis dan Review "A Whisker Away ", Pelarian dalam Wujud Kucing

Contoh Esai PPG Prajabatan

Perlu Edukasi Ekstra dalam Menyadarkan Masyarakat Peduli Sampah (Review Kegiatan World Cleanup Day 2021)